Nama : Miftahul Falah
Nim : 2001030096
Kelas/Prodi : 3B Ilkom
- Dekonstruktifisme Hampir semua bangunan atau konstruksi dasar keilmuan yang telah mapan dalam era modern, baik dalam bidang sosiologi, psikologi, antropologi, sejarah, bahkan juga dalam ilmu-ilmu kealaman yang selama ini dianggap baku atau yang biasa disebut dengan grand theory ternyata dipertanyakan ulang oleh alur pemikiran Postmodernisme atau yakni upaya mempertanyakan ulang teori-teori yang sudah mapan yang telah dibangun oleh pola pikir modernisme, untuk kemudian dicari dan disusun teori yang lebih relevan dalam memahami kenyataan masyarakat, realitas keberagamaan, dan realitas alam yang berkembang saat ini.
- Relativisme Thomas S. Kuhn adalah salah seorang pemikir yang men-dobrak keyakinan para ilmuan yang bersifat positivistik. alur pemikiran ini yaitu bahwa wilayah budaya, bahasa, cara berpikir dan agama sangat ditentukan oleh tata nilai dan adat kebiasaan masing-masing. Para pemikir Postmodernisme menganggap bahwa segala sesuatu itu sifatnya relative dan tidak boleh absolut, karna harus mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada
- Pluralisme Akumulasi dari ciri pemikiran Postmodernisme yaitu pluralisme. Era pluralisme sebenarnya sudah diketahui oleh banyak bangsa sejak dahulu kala, namun gambaran era pluralisme saat itu belum dipahami sepeti era sekarang. Hasil teknologi modern dalam bidang transportasi dan komunikasi menjadikan era pluralisme budaya dan agama telah semakin dihayati dan dipahami oleh banyak orang dimanapun mereka berada.
- pengingkaran atas semua jenis ideology. Konsep berfilsafat dalam era postmodernisme adalah hasil penggabungan dari berbagai jenis fondasi pemikiran. Mereka tidak mau terkungkung dan terjebak dalam satu bentuk fondasi pemikiran filsafat tertentu.
- menggantikan peran cerita-cerita besar menuju cerita-cerita kecil, dimana aliran modernism dianggap bergantung dan terpaku pada grand narrative dari kemapanan filsafat yang hanya mengandalkan akal, dialektika roh, emansipasi subjek yang rasional, dan sebagainya.
- postmodernisme tidak memiliki asas-asas yang jelas (universal dan permanen). Bagaimana mungkin akal sehat manusia dapat menerima sesuatu yang tidak jelas asas dan landasannya? Jika jawaban mereka positif, jelas sekali hal itu bertentangan dengan pernyataan mereka sendiri, sebagaimana postmodernisme selalu menekankan untuk mengingkari bahkan menentang hal-hal yang bersifat universal dan permanen.
- segala pemikiran yang hendak merevisi modernisme, tidak dengan menolak modernisme itu secara total, melainkan dengan memperbaharui premis-premis modern di sana-sini saja. Ini dimaksudkan lebih merupakan "kritik imanen" terhadap modernisme dalam rangka mengatasi berbagai konsekuensi negatifnya.
- Teori Sosial Postmodern Moderat. Teori ini yang menyatakan bahwa ada keterputusan antara modernisme dengan postmodernisme.
- Teori Sosial Postmodern Ekstrem Teori ini menyatakan bahwa masyarakat modern telah digantikan oleh masyarakat postmodern. Menurutnya objek konsumsi merupakan “sesuatu yang diorganisir oleh tatanan produksi” atau “perluasan kekuatan produktif yang diorganisir”
- Posisi Teoritis Teori ini bepandangan bahwa perbedaan pandangan antara modernisme dan postmodernisme bukan lagi dijadikan sebuah perdebatan, akan tetapi bagaimana keduanya bisa saling bergandengan dan saling melengkapi