Nama : Miftahul Falah
Nim : 2001030096
Kelas/Prodi : 3B Ilkom
Tugas Mata Kuliah : Filsafat Komunikasi
Konstruktivisme adalah suatu pendekatan untuk pengajaran
dan pembelajaran berdasarkan pada premis bahwa kognisi
adalah hasil dari konstruksi mental. Dengan katalain, pelajar
belajar dengan memasukkan informasi baru bersama dengan
apa yang sudah mereka ketahui. Konstruktivis percaya bahwa
belajar dipengaruhi oleh konteks dimana ide diajarkan serta
oleh keyakinan dan sikap pelajar. Menurut faham
konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi
(bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata).
Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain,
karenasetiap orang mempunyai skemasendiri tentang apa
yang diketahuinya.
Konstruktivisme dalam Ilmu Komunikasi
Teori Konstruktivisme adalah teori komunikasi interpersonal
yang melihat perbedaan kemampuan masing-masing individu
ketika berinteraksi dalam situasi tertentu. Teori ini sebagian
didasarkan padateori George Kelly mengenai Gagasan
pribadi yang menekankan pada caraindividu mengkonstruksi,
merasakan dan meramalkan fenomena yang ada di sekitarnya.
Teori George Kelly ini Dibangun sebelum teori
konstruktivisme dan dikenal dengan konstruksi pribadi Atau
konstruksi personal.Terdapat dua macam proses kognitif
yang berlangsung pada diri seseorang, yaitu :
- Belum matangnya proses kognitif seseorang individu ketika dia hanya melihat orang lain dari sisi hitam atau putih saja
- individu yang telah memiliki kedewasaan mampu melihat dunia dari gambaran kehidupan yang ada dan mampu menggambarkan orang lain dengan lebih kompleks, tidak hanya terpaku pada hitam atau putih saja.
AKOMODASI ASIMILASI
Akomodasi di sisi lain, mengubah dunia dan
pengalaman baru menjadi kapasitas mental
yang sudah ada. Individu memahami mode
tertentu di mana dunia beroperasi. Ketika
hal-hal tidak beroperasi dalam konteks itu.
Peran guru sangat penting dalam teori
pembelajaran konstruktivisme, Alih-alih
memberi ceramah, guru dalam teori ini
berfungsi sebagai fasilitator yang berperan
membantu siswa dalam memahami sendiri.
ASIMILASI
Berasimilasi menyebabkan seseorang
memasukkan pengalaman baru kedalam
pengalaman lama, Hal inimenyebabkan
individu dapat mengembangkan pandangan
baru, memikirkan kembali apa yang dulu
merupakan kesalah pahaman, dan
mengevaluasiapa yang penting, yang pada
akhirnya mengubah persepsimereka
Adapun tujuan teori belajar konstruktivismeadalah sebagai berikut:
- Mengembangkan keahlian peserta didik dalam mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban.
- Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menjadi pemikir mandiri.
- Membantu peserta didik mengembangkan pengertian dan pembahasan konsep secara lengkap.
Tokoh-tokoh Teori Konstruktisme
John Dewey
Dewey dan pembelajaran demokratis, Pembelajaran berbasis masalah
menemukan akar intelektualnya padapenelitian John Dewey (Ibrahim &
Nur, 2004). Dalam demokrasi dan pendidikan Dewey menyampaikan
pandangan bahwa sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih
besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah
kehidupan nyata. Ilmu mendidikDewey menganjurkan pembelajar untuk
mendorong pebelajarterlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah
dan membantu mereka menyelidikimasalah-masalah intelektual dan sosial.
Dewey juga menyatakan bahwa pembelajaran disekolah seharusnyalebih
memiliki manfaat dari padaabstrak dan pembelajaran yang memiliki manfaat
terbaik dapat dilakukan oleh pebelajar dalam kelompok-kelompok kecil
untuk menyelesaikan proyek yangmenarik danpilihan merekasendiri.
Jean Pieget
Konstruktivisme Piaget dan Vygotsky Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan
diatas pandangan konstruktivis kognitif (Ibrahim dan Nur,2004). Piaget
mengemukakan bahwa pebelajar dalam segala usiasecara aktif terlibat dalam proses
perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Bagi Piaget
pengetahuan adalah konstruksi (bentukan) dari kegiatan/tindakan seseorang (Suparno,
1997). Pengetahuan tidak bersifat statistetapiterus berevolusi. Seperti halnya Piaget,
Vygotsky juga percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi padasaat individu
berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang dan ketika mereka berusah
auntuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman ini (Ibrahim & Nur,
2004). Piaget memandang bahwatahap-tahap perkembangan intelektual individu
dilalui tanpa memandang latar konteks sosial dan budayaindividu. Sementaraitu,
Vygotskymemberi tempat lebih padaaspek sosial pembelajaran. Ia percaya bahwa
interaksi sosial dengan orang lain mendorong terbentuknya ide baru dan
memperkayaperkembangan intelektual pembelajar.
Jerome Burner
Burner telah mengembangkan suatu model instruksional kognitif yang sangat
berpengaruh yang disebut dengan belajar penemuan. Bruner menganggap bahwa
belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan
dengan sendirinya memberikan hasil yang lebih baik. Berusaha sendiri untuk
pemecahanmasalah dan pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan
yangbenar-benar bermakna(Dahar, 1998). Bruner menyarankan agar pebelajar
hendaknya belajar melaluipartisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsipprinsip agar mereka dianjurkan untuk memperopleh pengetahuan. Perlunya
pembelajar penemuan didasarkan pada keyakinan bahwa pembelajaran sebenarnya
melalui penemuan pribadi.
Prinsip-prinsip Pembelajaran Teori
Konstruktivisme
- Mengajukan masalah yang memiliki relevansi untuk peserta didik mulailah dengan apa yang siswa ketahui dan bantu mereka membangun pemahaman yang semakin canggih dengan membuat materi dan materi pelajaran relevan bagi merekainiadalah landasan pendidikan konstruktivis.
- Mencari dan Menghargai Sudut Pandang Siswa Guru konstruktivis melihat sudut pandang siswa mereka sebagai "jendela ke dalam penalaran mereka"
- Penataan Pembelajaran Di Sekitar Konsep Utama, Untuk lebih melibatkan siswa mereka, guru konstruktivis sering menyajikan kurikulum secara holistik, mengatur materi dalam kelompok konseptualatau, seperti yang dikatakan beberapa konstruktivis, "ide besar".
- MengadaptasiKurikulum Untuk Mengatasi Anggapan SiswaJika pembelajaran konstruktivis dimulai dengan apa yang telah diketahui siswa dan membantu mereka membangun pengetahuan tersebut, maka guru harus menyadariapa yang diketahui dan dipikirkan siswa diawal pelajaran.
- Menilai Pembelajaran Siswa Dalam Konteks Pengajaran Dalam pendidikan tradisional, guru menilai siswa dengan menilai tugas, dari lembar kerja hingga ujian, dan menilai pekerjaan siswa berdasarkan jumlah jawaban benar dan salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar