Sabtu, 15 Januari 2022

Postmodernisme

Nama           :   Miftahul Falah

Nim              :   2001030096

Kelas/Prodi  :   3B Ilkom

Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi



Pengertian Postmodernisme

    Postmodernisme merupakan cabang dari aliran ilmu filsafat yang mana berisi tentang pemikiran baru yang mengabaikan pemahaman-pemahaman dari aliran filsafat sebelumnya yang masih berupa imajiner dan realitis sekaligus berisikan tentang permasalahan dari modernisme sebelum paham postmodernisme ini lahir yang mana telah mengalami kegagalan dalam mengembangkan kemajuan pengetahuan dan sosial manusia. Jean-Francois Lyotard adalah orang yang memperkenalkan postmodernisme dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan di tahun 1970-an dalam bukunya yang berjudul “The Postmodern Condition: A Report on Knowledge”. Dia mengartikan postmodernisme sebagai segala kritik atas pengetahuan universal, atas tradisi metafisik, fondasionalisme maupun atas modernisme (Maksum, 2014: 305-306). 

Lahirnya Postmodernisme

    Kata modernisme mengandung makna serba maju, gemerlap, dan progresif. Modernisme selalu menjanjikan pada kita untuk membawa pada perubahan ke dunia yang lebih baik mapan di mana semua kebutuhan akan dapat terpenuhi. Demikian modernisme memiliki sisi gelap yang menyebabkan kehidupan manusia kehilangan diorientasi. Namun yang dilakukan oleh Max Horkheimer, Ardono, dan Herbert Marcuse bahwa pencerahan tersebut melahirkan sebuah penindasan dan dominasi disamping juga melahirkan kemajuan. Modernisme, menurut Anthony Giddens, menimbulkan berkembangbiaknya petaka bagi umat manusia. Atas latar belakang itulah, para tokoh dan pemikir postmodernisme menghadirkan sebuah gagasan baru yang disebut dengan postmodernisme dalam rangka melakukan dekonstruksi paradigma terhadap berbagai bidang keilmuan, sebagai sebuah upaya untuk mengoreksi atau membuat dan bahkan menemukan paradigma yang baru. Postmodernisme seperti yang dikatakan oleh Derrida dan Lyotard, merupakan anti tesis dari modernisme. Hampir semua istilah yang diajukan oleh postmodernisme adalah antonimasi modernisme. Kelahiran postmodernisme membuat istilah baru dan mengakibatkan perbedaan dengan paham modernisme.

Tokoh-Tokoh Postmodernisme

    Pertama, Jean-Francois Lytoard, merupakan salah satu filsuf postmodernisme yang paling terkenal sekaligus paling penting di antara filsuf-filsuf postmodernisme yang lainnya. Kedua, Michel Foucault, adalah seorang tokoh postmodernisme yang menolak keuniversalan pengetahuan. Ketiga, Jacques Derrida. Membahas filsuf yang satu ini tidak akan lepas dari buah pikirannya tentang dekonstruksi. Keempat, Jean Baudrillard; pemikirannya memusatkan perhatian kepada kultur, yang dilihatnya mengalami revolusi besar-besaran dan merupakan bencana besar. Kelima, Fedrick Jameson. Ia merupakan salah satu kritikus literatur berhaluan marxis paling terkemuka.

Ciri-Ciri Pemikiran Postmodernisme
  • Dekonstruktifisme Hampir semua bangunan atau konstruksi dasar keilmuan yang telah mapan dalam era modern, baik dalam bidang sosiologi, psikologi, antropologi, sejarah, bahkan juga dalam ilmu-ilmu kealaman yang selama ini dianggap baku atau yang biasa disebut dengan grand theory ternyata dipertanyakan ulang oleh alur pemikiran Postmodernisme atau yakni upaya mempertanyakan ulang teori-teori yang sudah mapan yang telah dibangun oleh pola pikir modernisme, untuk kemudian dicari dan disusun teori yang lebih relevan dalam memahami kenyataan masyarakat, realitas keberagamaan, dan realitas alam yang berkembang saat ini. 
  • Relativisme Thomas S. Kuhn adalah salah seorang pemikir yang men-dobrak keyakinan para ilmuan yang bersifat positivistik. alur pemikiran ini yaitu bahwa wilayah budaya, bahasa, cara berpikir dan agama sangat ditentukan oleh tata nilai dan adat kebiasaan masing-masing. Para pemikir Postmodernisme menganggap bahwa segala sesuatu itu sifatnya relative dan tidak boleh absolut, karna harus mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada 
  • Pluralisme Akumulasi dari ciri pemikiran Postmodernisme yaitu pluralisme. Era pluralisme sebenarnya sudah diketahui oleh banyak bangsa sejak dahulu kala, namun gambaran era pluralisme saat itu belum dipahami sepeti era sekarang. Hasil teknologi modern dalam bidang transportasi dan komunikasi menjadikan era pluralisme budaya dan agama telah semakin dihayati dan dipahami oleh banyak orang dimanapun mereka berada.  

Kelebihan Dan Kelemahan Postmodernisme

Kelebihan Postmodernisme yaitu :
  • pengingkaran atas semua jenis ideology. Konsep berfilsafat dalam era postmodernisme adalah hasil penggabungan dari berbagai jenis fondasi pemikiran. Mereka tidak mau terkungkung dan terjebak dalam satu bentuk fondasi pemikiran filsafat tertentu. 
  • menggantikan peran cerita-cerita besar menuju cerita-cerita kecil, dimana aliran modernism dianggap bergantung dan terpaku pada grand narrative dari kemapanan filsafat yang hanya mengandalkan akal, dialektika roh, emansipasi subjek yang rasional, dan sebagainya.
Kelemahan Postmodernisme yaitu :
  • postmodernisme tidak memiliki asas-asas yang jelas (universal dan permanen). Bagaimana mungkin akal sehat manusia dapat menerima sesuatu yang tidak jelas asas dan landasannya? Jika jawaban mereka positif, jelas sekali hal itu bertentangan dengan pernyataan mereka sendiri, sebagaimana postmodernisme selalu menekankan untuk mengingkari bahkan menentang hal-hal yang bersifat universal dan permanen. 
  • segala pemikiran yang hendak merevisi modernisme, tidak dengan menolak modernisme itu secara total, melainkan dengan memperbaharui premis-premis modern di sana-sini saja. Ini dimaksudkan lebih merupakan "kritik imanen" terhadap modernisme dalam rangka mengatasi berbagai konsekuensi negatifnya.

Teori – Teori Sosial Postmodern 

Beberapa teori sosial postmodernisme antara lain :
  • Teori Sosial Postmodern Moderat. Teori ini yang menyatakan bahwa ada keterputusan antara modernisme dengan postmodernisme. 
  • Teori Sosial Postmodern Ekstrem Teori ini menyatakan bahwa masyarakat modern telah digantikan oleh masyarakat postmodern. Menurutnya objek konsumsi merupakan “sesuatu yang diorganisir oleh tatanan produksi” atau “perluasan kekuatan produktif yang diorganisir” 
  • Posisi Teoritis Teori ini bepandangan bahwa perbedaan pandangan antara modernisme dan postmodernisme bukan lagi dijadikan sebuah perdebatan, akan tetapi bagaimana keduanya bisa saling bergandengan dan saling melengkapi 

Pandangan Postmodernisme Terhadap Ilmu Pengetahuan

    Modernisme memandang ilmu-ilmu positif empiris atau ilmu pengetahuan mau tidak mau menjadi standar kebenaran tertinggi. Artinya pandangan modernisme yang objektif dan positivis. Mengakibatkan nilai moral dan religious kehilangan wibawa. Maka timbul disorientasi moral-religius menuju suatu kekerasan, keterasingan, dan disorientasi hidup. Penganut postmodernisme mengakui adanya suatu pendekatan dalam ilmu pengetahuan yaitu secara pendekatan metodologis antaralain interpretasi anti obyektifitas dan dekonstruksi. Postmodernisme dipahami sebagai interpretasi tak terbatas Dengan demikian dalam pandangan postmodernisme bahwa ilmu pengetahuan bersifat subjektif. Implikasinya adalah bahwa tidak ada apa yang dinamakan ilmu bebas nilai. Sedangkan modernism menganggap ilmu pengetahuan yang objektif maka bebas dari nilai.

Relevansi Postmodernisme bagi kehidupan masa kini

    Jika diamati dengan seksama, banyak hal menarik dan bisa diterima dari apa yang ditawarkan oleh pasca-modernisme. Lepas dari sah atau tidaknya keberadaan pasca-postmodernisme, kenyataannya dia ada dan keberadaannya harus diakui. Soal membawa manfaat atau tidaknya, kita tidak bisa menilai secara langsung dengan satu sisi saja, karena selalu ada dua sisi yaitu apakah baik atau buruk. Dengan melihat sisi negatif dari paham postmodernisme itu, maka apakah dengan demikian postmodernisme harus di hapus atau dibuang. Tentu sisi positifnya tetap ada, ia telah mengingatkan kepada kita bahwasanya dalam diri kita harus waspada terhadap teori atau cerita atau narasi besar, jangan sampai mereka berkembang menjadi sebuah ideologi. Jangan sampai ideologi tersebut berlindung dibalik teori-teori besar tersebut. Tetapi kenyataannya bahwa dibalik itu semua, ia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi. Paham postmodernisme tetap dapat dikembangkan dan dapat dipercaya asal ia tidak memutlakkan prinsip dia sendiri dengan menghilangkan prinsip orang lain. Karena segala sesuatu itu perlu diteliti atau bahkan dikoreksi dan dipertanyakan apakah ia benar berjuang demi menegakkan martabat dan kebahagiaan manusia yang lebih benar (Maksum, 2014: 354) 

Postmodernisme merupakan suatu ide baru yang menolak atau pun yang termasuk dari pengembangan suatu ide yang telah ada tentang teori pemikiran masa sebelumnya yaitu paham modernisme yang mencoba untuk memberikan kritikan-kritikan terhadap modernisme yang dianggap telah gagal dan bertanggung jawab terhadap kehancuran martabat manusia; ia merupakan pergeseran ilmu pengetahuan dari ide-ide modern menuju pada suatu ide yang baru yang dibawa oleh postmodernisme itu sendiri. 

PARADIGMA KRITISME

Nama           :   Miftahul Falah

Nim              :   2001030096

Kelas/Prodi  :   3B Ilkom

Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi


Definisi Paradigma Paradigma adalah cara pandang seseorang mengenai suatu pokok permasalahan yang bersifat fundamental untuk memahami suatu ilmu maupun keyakinan dasar yang menuntun seorang untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Capra(1991) dalam bukunya Tao of Physics menyatakan bahwa paradigma adalah asumsi dasar yang membutuhkan bukti pendukung untuk asumsi-asumsi yang ditegakkannya, dalam menggambarkan dan mewarnai interpretasinya terhadap realita sejarah sains. Paradigma dapat diartikan sebagai seperangkat keyakinan atau kepercayaan yang mendasari seseorang dalam melakukan segala tindakan.

Pengertian Kritisme

    Kritisisme berasal dari kata kritika yang merupakan kata kerja dari krinein yang artinya memeriksa dengan teliti menguji, dan membedakan. Filsafat Kant juga dikenal sebagai “kritisisme”, yang dilawankan dengan “dogmatisme”. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas batas rasio. Kant adalah filosof pertama yang mengusahakan penyelidikan ini. 

Secara harafiah kata kritik berarti "pemisahan". Filsafat Kant bermaksud membeda-bedakan antara pengenalan yang murni dan yang tidak murni, yang tiada kepastiannya. la ingin membersihkan pengenalan dari keterikatannya kepada segala penampakan yang bersifat sementara.

Kritisme dan Masyarakat Jawa Modern

    Sejalan dengan perkembangan kehidupan masyarakat Jawa menuju kehidupan yang lebih modern, maka semakin lama ternyata kesadaran kritis masyarakat Jawa ini mulai timbul. Masyarakat mulai berani untuk mempertanyakan apa-apa yang sesungguhnya secara objektif dibalik kebenaran kebenaran ajaran kebudayaan tradisionalnya. Mereka mulai bisa menangkap pengertian-pengertian tentang ajaran kebudayaan mereka yang telah berjalan turun-temurun dan bisa menjelaskannya secara objektif dan rasional. 

Contoh nyata adalah pencapaian pada riset dan pengembangan jamu dan obat tradisional. Bagaimana pendekatan kritis ilmiah dan sains modern digunakan untuk meneliti dan mengembangkan ramuan-ramuan yang telah ada dan diwariskan dari nenek moyang mereka. Pendirian laboratorium dan pusat penelitian tentang Obat tradisional berusaha mengungkapkan secara ilmiah apaapa kandungan klinis dan biokemis dari ramuan rempah-rempah warisan leluhur untuk bisa dikemukakan kepada publik khasiat-khasiat ramuan tersebut. 

Kebiasaan dan Pola Kehidupan Modern Saat Ini

    Contoh nyata dari berbagai pencapaian yang telah dapat diraih oleh masyarakat Jawa modern sebagai akibat dari pola pikir kritis yang berkembang dikalangan mereka. Salah satunya adalah dunia fashion, batik sebagai ciri khas kebudayaan Jawa telah dieksplorasi sedemikian rupa dan dipadukan dengan trend mode pakaianpakaian era modern ini. Batik yang dulunya hanya dibuat dalam sehelai kain mori, hanya diwujudkan sebagai sebuah jarik (gaun tradisional Jawa), kebaya (pakaian wanita tradional) atau kemeja untuk laki-laki. Namun sekarang, telah amat banyak macam-ragam pakaian baik untuk laki-laki maupun perempuan, baik dewasa maupun anak-anak yang terbuat dari bahan batik.

Kritik atas rasio murni

    Rasio disini berperan aktif dalam mengelola sensasi masuk ke persepsi lalu menjadi konsepsi. Kritik yang dianggap usaha raksasa dari Kant adalah upaya mendamaikan rasionalisme‟ (yang beranggapan bahwa pengetahuan (pengenalan) dicapai secara apriori, lepas dari pengalaman) dan empirisisme (yang menekankan pada aposteriori).

Kritik atas rasio praktis

    Kant mengatakan bahwa penilaian terhadap suatu tindakan moral itu harus didasarkan pada ukuran otonomi individu yang melaksanakan (maksim), tanpa mempertimbangkan konteks tindakan dan tujuannya. 

KONSTRUKTIVISME

Nama           :   Miftahul Falah

Nim              :   2001030096

Kelas/Prodi  :   3B Ilkom

Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi


Konstruktivisme adalah suatu pendekatan untuk pengajaran dan pembelajaran berdasarkan pada premis bahwa kognisi adalah hasil dari konstruksi mental. Dengan katalain, pelajar belajar dengan memasukkan informasi baru bersama dengan apa yang sudah mereka ketahui. Konstruktivis percaya bahwa belajar dipengaruhi oleh konteks dimana ide diajarkan serta oleh keyakinan dan sikap pelajar. Menurut faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain, karenasetiap orang mempunyai skemasendiri tentang apa yang diketahuinya.

Konstruktivisme dalam Ilmu Komunikasi
    Teori Konstruktivisme adalah teori komunikasi interpersonal yang melihat perbedaan kemampuan masing-masing individu ketika berinteraksi dalam situasi tertentu. Teori ini sebagian didasarkan padateori George Kelly mengenai Gagasan pribadi yang menekankan pada caraindividu mengkonstruksi, merasakan dan meramalkan fenomena yang ada di sekitarnya. Teori George Kelly ini Dibangun sebelum teori konstruktivisme dan dikenal dengan konstruksi pribadi Atau konstruksi personal.Terdapat dua macam proses kognitif yang berlangsung pada diri seseorang, yaitu : 
  1. Belum matangnya proses kognitif seseorang individu ketika dia hanya melihat orang lain dari sisi hitam atau putih saja
  2. individu yang telah memiliki kedewasaan mampu melihat dunia dari gambaran kehidupan yang ada dan mampu menggambarkan orang lain dengan lebih kompleks, tidak hanya terpaku pada hitam atau putih saja. 

AKOMODASI ASIMILASI
    Akomodasi di sisi lain, mengubah dunia dan pengalaman baru menjadi kapasitas mental yang sudah ada. Individu memahami mode tertentu di mana dunia beroperasi. Ketika hal-hal tidak beroperasi dalam konteks itu. Peran guru sangat penting dalam teori pembelajaran konstruktivisme, Alih-alih memberi ceramah, guru dalam teori ini berfungsi sebagai fasilitator yang berperan membantu siswa dalam memahami sendiri.

ASIMILASI
    Berasimilasi menyebabkan seseorang memasukkan pengalaman baru kedalam pengalaman lama, Hal inimenyebabkan individu dapat mengembangkan pandangan baru, memikirkan kembali apa yang dulu merupakan kesalah pahaman, dan mengevaluasiapa yang penting, yang pada akhirnya mengubah persepsimereka 

Adapun tujuan teori belajar konstruktivismeadalah sebagai berikut:
  • Mengembangkan keahlian peserta didik dalam mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban. 
  • Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menjadi pemikir mandiri. 
  • Membantu peserta didik mengembangkan pengertian dan pembahasan konsep secara lengkap. 

Tokoh-tokoh Teori Konstruktisme 
    John Dewey Dewey dan pembelajaran demokratis, Pembelajaran berbasis masalah menemukan akar intelektualnya padapenelitian John Dewey (Ibrahim & Nur, 2004). Dalam demokrasi dan pendidikan Dewey menyampaikan pandangan bahwa sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Ilmu mendidikDewey menganjurkan pembelajar untuk mendorong pebelajarterlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidikimasalah-masalah intelektual dan sosial. Dewey juga menyatakan bahwa pembelajaran disekolah seharusnyalebih memiliki manfaat dari padaabstrak dan pembelajaran yang memiliki manfaat terbaik dapat dilakukan oleh pebelajar dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yangmenarik danpilihan merekasendiri.

Jean Pieget Konstruktivisme Piaget dan Vygotsky Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan diatas pandangan konstruktivis kognitif (Ibrahim dan Nur,2004). Piaget mengemukakan bahwa pebelajar dalam segala usiasecara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Bagi Piaget pengetahuan adalah konstruksi (bentukan) dari kegiatan/tindakan seseorang (Suparno, 1997). Pengetahuan tidak bersifat statistetapiterus berevolusi. Seperti halnya Piaget, Vygotsky juga percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi padasaat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang dan ketika mereka berusah auntuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman ini (Ibrahim & Nur, 2004). Piaget memandang bahwatahap-tahap perkembangan intelektual individu dilalui tanpa memandang latar konteks sosial dan budayaindividu. Sementaraitu, Vygotskymemberi tempat lebih padaaspek sosial pembelajaran. Ia percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain mendorong terbentuknya ide baru dan memperkayaperkembangan intelektual pembelajar.

Jerome Burner Burner telah mengembangkan suatu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh yang disebut dengan belajar penemuan. Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang lebih baik. Berusaha sendiri untuk pemecahanmasalah dan pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yangbenar-benar bermakna(Dahar, 1998). Bruner menyarankan agar pebelajar hendaknya belajar melaluipartisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsipprinsip agar mereka dianjurkan untuk memperopleh pengetahuan. Perlunya pembelajar penemuan didasarkan pada keyakinan bahwa pembelajaran sebenarnya melalui penemuan pribadi. 


Prinsip-prinsip Pembelajaran Teori Konstruktivisme
  • Mengajukan masalah yang memiliki relevansi untuk peserta didik mulailah dengan apa yang siswa ketahui dan bantu mereka membangun pemahaman yang semakin canggih dengan membuat materi dan materi pelajaran relevan bagi merekainiadalah landasan pendidikan konstruktivis.
  • Mencari dan Menghargai Sudut Pandang Siswa Guru konstruktivis melihat sudut pandang siswa mereka sebagai "jendela ke dalam penalaran mereka"
  • Penataan Pembelajaran Di Sekitar Konsep Utama, Untuk lebih melibatkan siswa mereka, guru konstruktivis sering menyajikan kurikulum secara holistik, mengatur materi dalam kelompok konseptualatau, seperti yang dikatakan beberapa konstruktivis, "ide besar". 
  • MengadaptasiKurikulum Untuk Mengatasi Anggapan SiswaJika pembelajaran konstruktivis dimulai dengan apa yang telah diketahui siswa dan membantu mereka membangun pengetahuan tersebut, maka guru harus menyadariapa yang diketahui dan dipikirkan siswa diawal pelajaran. 
  • Menilai Pembelajaran Siswa Dalam Konteks Pengajaran Dalam pendidikan tradisional, guru menilai siswa dengan menilai tugas, dari lembar kerja hingga ujian, dan menilai pekerjaan siswa berdasarkan jumlah jawaban benar dan salah. 


Jumat, 14 Januari 2022

POSITIVISME & POST-POSITIVISME

Nama           :   Miftahul Falah

Nim              :   2001030096

Kelas/Prodi  :   3B Ilkom

Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi



Paradigma 

    Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). 




Sejarah Positivisme
  1. Saint Simon ( Sekitar 1825)
  2. Prancis Bacon yang hidup sekitar abad ke-17
  3. Course de Philosophie Phositive, kursus tentang filsafat positf (1838- 1842), Auguste Comte
Positivisme
  • Positivisme berasal dari kata “positif”. Kata positif disini sama artinya dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta.
  • Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik 

Gagasan Positivisme
  1. Positivisme adalah aliran filsafat ilmu yang didasari atas keyakinan atau asumsi-asumsi dasar :
  2. Ontologi : Realisme. Semesta digerakkan oleh hukum-hukum alam secara mekanis dalam hukum jika.... Maka....
  3. Epistemologi : Dualisme . Menggambarkan semesta apa adanya tanpa keterlibatan nilai-nilai subjektif peneliti.
  4. Metodologi : eksperimental. Hipotesis dirumuskan lebih awal lalu diverivikasi dibawah situasi yg terkontrol (Doni Gahral Adian, 2002 : 136) 

Ciri-dri Positivisme (Doni Gahral Adian, 2002 : 68)
  1. Bebas Nilai : keyakinan, gagasan, emosi peneliti tidak terlibat. Peneliti Objektif 
  2. Fenomenalisme : Peneliti mengamati gejala belaka. Bukan dibalik fenomena itu
  3. Nominalisme : kebenaran berdasarkan nama atau ukuran. Bukan kenyataan itu sendiri 
  4. Reduksionisme : mereduksi kenyataan menjadi fakta-fakta yg dapat dipersepsi
  5. Naturalisme : semua gejalah berjalan secara alamiah tanpa campur tangan hal-hal mistis 
  6. Mekanisme : semua gejala dapat dijelaskan secara mekanis-determinis layaknya sebuah mesin 

FUNGSI POSITIVISME
  • Perkembangan yang diberi konotasi sebagai kemajuan memberikan makna bahwa positivisme telah mempertebal optimisme
  • Kemajuan dalam bidang fisik telah menimbulkan berbagai dalam segi kehidupan.
  • Dengan adanya penekanan dari filsafat positivisme terhadap segi rasional ilmiah, maka berfungsi pula kemampuannya untuk menerangkan kenyataan, sedemikian rupa sehingga keyakinannya akan kebenaran semakin terbuka (Adi, 2012).

Post-Positivisme
  1. Muncul pada tahun 1970/1980an
  2. Tokohnya adalah Karl R. Popper
  3. Memiliki perbedaan dengan positivisme dalam memandang realitas. Paradigma positivisme realitas yang diamati sebagaimana adanya, sedangkan post positivisme memandang adanya peran serta subjek yang menentukan ada tidaknya realitas. Oleh karena itu, kaum post-positivis mengakui realitas yang beragam

Post-Positivisme 

    Postpositivisme adalah aliran yang ingin memperbaiki kelemahan pada Positivisme. Satu sisi Postpositivisme sependapat dengan Positivisme bahwa realitas itu memang nyata ada sesuai hukum alam. Tetapi pada sisi lain Postpositivisme berpendapat manusia tidak mungkin mendapatkan kebenaran dari realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas atau tidak terlibat secara langsung dengan realitas. 

Post-Positivisme 

Ontologi Critical Realism. Realitas memang ada dalam kenyataan tetapi suatu hal yg mustahil bila peneliti dapat melihat realitas itu secara benar
Epistemologi Objektivisme yg dimodifikasi. Mendasari pada kausalitas dan keteraturan, namun relasi kausal tidak sederhana tetapi multiplisitas faktor
Aksiologi
  1. Tidak bebas nilai. 
  2. Hubungan antara peneliti dan objek yg diteliti tidak bisa dipisahkan. 
  3. Peneliti dapat melihat kebenaran apabila berinteraksi dengan objek yg ditelit
Proses dari positivisme ke post-positivisme melalui kritikan dari tiga hal yaitu : 
  1. Observasi sebagai unsur utama metode penelitian, 
  2. Hubungan yang kaku antara teori dan bukti. Pengamat memiliki sudut pandang yang berbedadan teori harus mengalah pada perbedaan waktu, 
  3. Tradisi keilmuan yang terus berkembang dan dinamis (Salim, 2001). 
Ontology
positivisme bersifat nyata, artinya realita itu mempunyai keberadaan sendiri dan diatur oleh hukum-hukum alam dan mekanisme yang bersifat tetap.
Post-positivisme Realis kritis – artinya realitas itu memang ada, tetapi tidak akan pernah dapat dipahami sepenuhnya.

Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Dalam perkembangannya ada tiga positivisme, yaitu positivisme sosial, positivisme evolusioner dan positivisme kritis. Post-positivisme merupakan perbaikan positivisme. Secara ontologis aliran postpositivisme bersifat critical realism artinya realitas itu memang ada, tetapi tidak akan pernah dapat dipahami sepenuhnya artinya.post positivisme bergantung pada konteks value, kultur, tradisi, kebiasaan, keyakinan, natural dan lebih manusiawi. Indikator yang membedakan antara Paradigma positivisme dan postpositivism adalah post positivisme lebih mempercayai proses verifikasi terhadap suatu temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode 

Rabu, 12 Januari 2022

LOGIKA KOMUNIKASI

Nama           :   Miftahul Falah

Nim              :   2001030096

Kelas/Prodi  :   3B Ilkom

Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi


LOGIKA KOMUNIKASI

PENGERTIAN LOGIKA

    Logika berasal dari kata logos, logike, logica, logique, dan logic. Kata logis dan logike berasal dari Bahasa Yun berasal dari Bahasa Yunani. Logos berarti kata, ani. Logos berarti kata, ide, atau ide, atau akal. Sementara akal. Sementara logike, logica, logique, logike, logica, logique, dan logic berarti seni berfikir. Kata logica berasal dari Bahasa Latin, Logique berasal dari Bahasa Prancis, dan Logic berasal dari Bahasa Inggris.

Dasar dasar logika
  • Logika deduktif Menurut aristoteles Logika deduktif adalah logika yang bertolak belakang dari pengetahuan lama bersifat umum menuju pengetahuan baru bersifat khusus secara logistik. Logika deduktif juga merupakan sistem penalaran yang menalaah prinsip-prinsip penyimpulan yang sah berdasarkan bentuknya serta kesimpulan yang dihasilkan sebagai kemestian diturunkan dari pangkal pikirnya. Contoh argumen deduktif:
  • Setiap mamalia memiliki sebuah jantung 
  • Setiap kuda adalah mamalia 
  • Setiap kuda memiliki sebuah jantung 
  • Logika induktif Logika ini dikenalkan oleh Thales sejak (624 SM-548 SM). Induktif adalah logika yang beranjak dari pengetahaun lama bersifat khusus menuju pengetahuan baru bersifat umum yang melalui tahap observasi empiris. Logika induktif juga merupakan cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atau particular tertentu untuk menarik kesimpulan umum tertentu. Contoh argumen induktif: 
  • Kuda Sumba punya sebuah jantung 
  • Kuda Australia mempunyai sebuah jantung 
  • Setiap kuda Mmempunyai jantung 

CABANG LOGIKA

  1. Logika Formal Logika formal yang juga disebut logika (minor) merupakan ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk pemikiran (konsep, keputusan, kesimpulan dan pembuktian) berkenaan dengan struktur logisnya, yaitu dengan abstraksi isi konkret dari pikiran-pikiran dan menonjolkan hanya hanya cara-cara umum yang olehnya memungkinkan bagian-bagian dari isi itu berbuhungan, dan juga mempelajari aturan-aturan atau hukum-hukum berfikir yang harus ditaati
  2. Logika Material Logika material ini disebut juga logika materialism (mayor). Logika ini dapat membuat kesimpulan atau juga pernyataan itu dengan berdasarkan materi atau objektif. Logika Material adalah cabang logika yang bertanggung jawab untuk menganalisis konten dari premisnya. Logika juga mempelajari proses aktifitas pikir yang memungkinkan lahirnya pengetahuan yang benar, dan metode-metode yang dapat membantu untuk memperoleh pengetahuan baru tersebut serta mempelajari sumber-sumber dan asal pengetahuannya, sehingga pada akhirnya dapat merumuskan metode pengetahuan tersebut. 

SILOGISME
    Jadi yang dinamakan silogisme disini adalah suatu pengambilan kesimpulan dari dua macam keputusan yang mengandung unsur yang sama dan salah satunya harus universal, dan keputusan yang ketika yang kebenarannya sama dengan keputusan yang mendahuluinya. Dengan kata lain silogisme adalah pola pikir yang disusun dari dua buh pernyataan dan sebuah kesimpulan.
Contoh silogis: Semua makhluk mempunyai mata (premis mayor) Si kalong adalah seorang makhluk (premis minor) Jadi, si kalong mempunya mata (kesimpulannya) 


KESESATAN BERFIKIR
  • Kesesatan formal Merupakan kesesatan yang terbentuk karena penalaran yang tidak tepat, kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argument. Contoh: pahlawan adalah orang yang berjasa. Bolot adalah artis. Jadi, Bolot adalah orang yang berjasa.
  • Kesesatan informal Merupakan kesesatan yang menyangkut isi penalaran. Kesesatan ini dapat terjadi karena faktor bahasa yang menyebabkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan. Contoh: semua bangsawan berdarah biru. Ratiu Inggris bukan berdarah biru (warna darah). Jadi, ratu Inggris bukanlah bangsawan. 

    Logika dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan dan kemampuan untuk berfikir lurus. Ilmu pengetahuan ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan ini terjadi dengan menunjukan sebab musababnya. Kajian ilmu logika adalah asas-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. Agar dapat berfikir seperti itu, logika menyelidiki, merumuskan, serta menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati. Hal ini menunjukan bahwa logika bukanlah sebatas teori, tapi juga merupakan suatu keterampilan untuk menerapakan hukum-hukum pemikiran dalam praktek. Sebab inilah mengapa logika disebut filsafat yang praktis. Logika komunikasi dalam percakapan sehari-hari tidak dituntut seperti dalam kegiatan ilmiah. Penutur bahasa pada umumnya mempunyai toleransi yang tinggi dalam kegiatan berbahasa sehari-hari. Sebaliknya, dalam kegiatan ilmiah penerapan logika dalam komunikasi sangat diperlukan. Semua orang dapat berkomunikasi, minimal secara non verbal. Namun tak semua komunikasi manusia bernilai logis. Yang dimaksud dengan komunikasi logis adalah komunikasi rasional yang taat pada kaidah berpikir sahih dan benar. Penyusun kalimat yang logis sangat berhubungan dengan kebenaran kalimat. Kebenaran kalimat itu tergantung pada proposisinya. Kalimat yang tidak memiliki nilai kebenaran cenderung tidak logis.



Aksiologi

Nama           :   Miftahul Falah

Nim              :   2001030096

Kelas/Prodi  :   3B Ilkom

Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi


Definisi Aksiologi

    Istilah aksiologi berasal dari Bahasa Yunani yakni axios yang berarti nilai, serta logos yang memiliki arti ilmu atau teori. Jadi dapat diartikan bahwa pengertian Aksiologi ini merupakan teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, dan status metafisika dari nilai dalam pemikiran filsafat Yunani. 

secara etimologis tersebut, ada beberapa pengertian secara istilah seperti yang disebutkan di bawah ini:
  1. Aksiologi merupakan analisis nilai-nilai. Maksud dari analisis ini ialah membatasi arti, ciri-ciri, asal, tipe, kriteria dan status epistimologis dari nilai-nilai itu.
  2. Aksiologi merupakan studi yang menyangkut teori umum tentang nilai atau suatu studi yang menyangkut segala yang bernilai.
  3. Aksiologi adalah studi filosofi tentang hakikat-hakikat nilai. 



Definisi Menurut Para Ahli

Jujun S. suriasumantri
Aksiologi yang terdapat di dalan bukunya filsafat ilmu sebuah pengantar popular bahwa aksiologi ini diartikan ialah sebagai teori nilai yang berhubungan dengan kegunaan dari pengetahuan yang di peroleh.
Bramel
Aksiologi merupakan nilai-nilai sebagai tolak ukur kebenaran, etika serta moral sebagai dasar normative penelitian dan juga penggalian, dan juga penerapan ilmu. 
Kattsoff (2004: 319)
Mendefinisikan bahwa aksiologi ialah sebagai ilmu pengetahuan yang menyelediki hakekat nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. 

Masalah Utama Aksiologi 

1. Kodrat nilai mengenai apakah nilai itu berasal dari :
  • Keinginan (voluntarisme: spinoza)
  • Kesenangan (hedonism: epicurus)
  • Masyarakat (bentham: meinong)
  • Kepentingan (perry)
  • Preferensi (Martineau)
  • Keinginan rasio murni (kant)
  • Pemahaman mengenai kualitas tersier (Santayana)
  • Pengalaman sinoptik kesatuan kepribadian (personalisme: green)
  • Berbagai pengalaman yang mendorong semangat hidup (Nietzsche)
  • Relasi benda-benda sebagai sarana untuk mencapai tujuan dan konsekuensi yang sungguhsungguh dapat dijangkau (pragmatism: dewain)
2. Jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan pandangan antara nilai intrinsic, ukuran untuk kebijaksanaan     nilai itu sendiri, dan nilai instrumental yang menjadi penyebab (baik barang-barang ekonomis                maupun peristiwa-peristiwa alamiah mengenai nilai-nilai instrinsik).
3. Kriteria nilai, artinya untuk menguji nilai yang dipengaruhi sekaligus oleh teori psikologi dan logika. 4. Status metafisik nilai mempersoalkan tentang bagaimana hubungan antara nilai dengan fakta-fakta        yang diselidiki melalui:
  • Ilmu-ilmu kealaman (Koehler)
  • Kenyatan terhadap keharusan (lotze)
  • Pengalaman manusia tentang nilai pada ralitas kebabasan manusia (hegel) 

Definisi Etika

    Etika ialah salah satu cabang ilmu fisafat yang membahas moralitas nilai baik serta juga buruk, etika tersebut bisa di definisikan ialah sebagai nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan manusia atau juga masyarakat yang mengatur tingkah lakunya.
  1. Kata etika bisa dipakai dalam arti nilai nilai / norma norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
  2. Etika merupakan ilmu tentang baik atau buruk. 

Ada 3 Macam Pendekatan Etika

  1. Etika Deskriptif Etika deskriptif ini merupakan cara melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas seperti misalnya: adat kebiasaan, anggapan mengenai baik atau buruk, tindakan yang di perbolehkan atau juga tidak.
  2. Etika Normatif Etika normatif ini memiliki arti sistem-sistem yang dimaksudkan untuk dapat memberikan petunjuk atau juga penuntun dalam mengambil suatu keputusan yang menyangkut baik atau juga buruk. 
  3. Metaetika Metaetika menganalisis logika perbuatan dalam kaitan dengan ‘baik’ atau ‘buruk’.

Senin, 10 Januari 2022

FILSAFAT KOMUNIKASI EPISTEMOLOGI

Nama           :   Miftahul Falah

Nim              :   2001030096

Kelas/Prodi  :   3B Ilkom

Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi

PENGERTIAN EPISTEMOLOGI

Cabang utama filsafat kedua adalah epistemologi (teori pengetahuan), berasal daribahasa Yunani, episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan (knowl-edge), dan logos artinya teori atau ilmu. Dengan demikian, Epistemologi secara etimologis berarti teori pengetahuan Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan gagasan pengetahunan manusia.



Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh dan dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah, yaitu suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang dan mapan, sistematik, dan logis.


OBJEK-OBJEK EPISTEMOLOGI
        Objek epistemologi adalah pengetahuan, sedangkan objek fornalnya merupakan hakikat pengetahuan. Epistemology Theory of Knowledge) menyebutkan 8 hal penting yang berfungsi membentuk struktur pikiran manusia :
  1. Mengamati (Observe)
  2. Menyelidiki (inquires) 
  3. Mempercayai ( beliefs) 
  4. Hasrat (desires) 
  5. Maksud ( intens) 
  6. Mengatur (organize)
  7. Menyesuaikan (adapts)
  8. Menikmati (enjoys)

PENGETAHUAN EPISTEMOLOGI
Ciri-ciri pengetahuan ilmiah adalah sebagai berikut (Beerling, dkk, 1986:5-7) :
  1. Berlaku umum 
  2. Memiliki pemikiran otonomi 
  3. Memiliki dasar pembenaran 
  4. Sistematik
  5. Intersubjektif 
        Pengetahuan merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk memperoleh kebenaran. Pengetahuan dipandang dari jenis pengetahuan yang dibangun. Menurut Soejono Soemargono (1997: 10), pengetahuan dapat dibedakan sebagai berikut :
  • Pengetahuan biasa (ordinary knowledge atau common sense). 
  • Pengetahuan ilmiah 
  • Pengetahuan filsafat
  • pengetahuan agama
Kriteria karakteristik pengetahuan dibedakan sebagai berikut (Soejono Soemargono, 1997) :
  1. Pengetahuan Indrawi 
  2. Pengetahuan Akal budi
  3. Pengetahuan Intuitif 
  4. Pengetahuan Kepercayaan (pengetahuan otoratif) 

Jenis Pengetahuan Epistemologi 

ILMIYAH
    Memperbandingkan gejal-gejala dan menganalisisnya sebagai proses dari hasil analisis tersebut dapat dilakukan generalisasia (memperlakukan sesuatu pernyataan untuk kasus yang banyak dan waktu yang berbeda).
    Mengenal praduga yang dimilikinya dan usaha untuk mencari keberlakuannya secara objektif dengan mengumpulkan data di lapangan dengan cara yang sistematis. - Memperhatikan banyak faktor, karena mengetahui bahwa gejala-gejala sosial itu saling berhubungan dan banyak faktor yang menentukan.
     Memungkinkan seseorang membuat pendugaan atau prediksi untuk waktu yang akan dating. 
NIR ILMIAH
    Cenderung untuk melihat sebagai sesuatu yang khusus dan sebagai hal yang pasti. Dengan demikian tidak terdapat keumuman.
   Terdiri dari pernyataan atau yang dalam banyak hal bersifat pepatah dan diperkuat pemakaiannnya melalui pengalaman yang kebetulan sesuai dengan kepercayaan yang pertama
    Memahami dan menjelaskan suatu gejala social dengan mempergunakan hanya satu faktor penyebab.
Tidak memungkinkan prediksi atau dugaan mengenai keberlakuan hasil berpikir tadi untuk masa yang akan datang.


ELEMEN EPISTEMOLOGI
    Dalam pencarian (epistemologi) suatu pengetahuan, terdapat 3 (tiga) elemen filsafat ilmu yang berperan penting yakni knower, knowing, dan knowledge.
  1. Knower adalah orang yang bertindak atau melakukan kegiatan knowing guna memperoleh Knowledge.
  2. Knowing adalah kegiatan nalar atau berpikir dari the knower untuk memperoleh Knowledge.
  3. Knowledge adalah reliabilitas dan soliditas dari dunia eksternal yang kita ketahui melalui sense perceptions pertaliannya dengan ingatannya (memori) dan pengenalan objek-objek yang sama sebagaimana pernah kita lihat 
ELEMEN EPISTEMOLOGI
    Dalam proses ke knowing, motif need of achievement sangat penting. Adapun yang tidak kalah penting menyangkut sesuatu yang umum, antara lain:
Kemampuan manusia pada umumnya.
Kecerdasan manusia pada umumnya (general intelligent atau special intelligent).
Objek yang hendak diketahui dan dipelajar.
Materi yang hendak dipelajari (maksudnya agar materi itu tidak terlalu asing atau sukar dan tidak pula terlalu gampang).
Materi yang diketahui juga harus menantang.

Sementara itu Fiaze menambahkan tiga cara berpikir, yakni: 1. Berpikir divergent (membuka arah baru atau kemungkinan baru). 2. Berpikir convergen (memper dalam atau menguatkan yang sudah ada). 3. Berpikir dialogis (mencoba untuk mengerti tapi mempertanyakan kembali tentang yang lain untuk dimengerti dan dipelajari). 

ONTOLOGI KOMUNIKASI

Nama           :   Miftahul Falah

Nim              :   2001030096

Kelas/Prodi  :   3B Ilkom

Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi



Pengertian Ontologi

Ontologi dalam bahasa Inggris “ontology”, Tokoh pertama yang membuat istilah ontologi adalah Christian Wolff (1679-1714). Istilah itu berakar dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu ontos berarti “yang berada atau keberadaan”, dan logos berarti ilmu pengetahuan atau ajaran atau juga pemikran (Lorens Bagus:2000).

 




        Maka ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada pada ilmu. Menyoal tentang wujud hakiki objek ilmu dan keilmuan (setiap bidang ilmu dalam jurusan dan program studi) itu apa? Dan juga dapat diartikan bahwa ontologi adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya. Sedangkan menurut Jujun S. Suriasumantri dalam Pengantar Ilmu dalam Perspektif mengatakan, ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”.


Objek Material
        Objek Material filsafat ilmu adalah pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum. Dalam gejala ini jelas ada tiga hal menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat.


Objek Formal
        Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu bagi manusia. Problem inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Objek formal filsafat ilmu merupakan sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu di sorot.

Aliran-aliran Ontologi
1. Monoisme
        Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Paham ini kemudian terebagi ke dalam dua aliran:
Materialisme :
  • Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme.
  • Idealisme diambil dari kata “Idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
2. Dualisme
        Dualisme adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Menurut aliran dualisme materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Sebuah analogi dapat kita ambil misalnya tentang jika jiwa sedang sehat, maka badan pun akan sehat kelihatannya. Sebaliknya jika jiwa seseorang sedang penuh dengan duka dan kesedihan biasanya badanpun ikut sedih, terlihat dari murungnya wajah orang tersebut.

3. Pluralisme
       Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictonary of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas. 

4. Nihilism
        Nihilism atau nihilisme adalah sebuah keyakinan bahwa semua nilai-nilai (value) itu tidak berarti. Lebih jelasnya, bahwa sejatinya tidak ada makna/nilai-nilai dalam hidup ini yang berlaku bagi semua manusia. Nihilism sering dikaitkan dengan skeptis radikal atau pesimisme ekstrim. Tokoh yang terkenal membawa nihilisme ini adalah Friedrich Nietzsche.  

5. Agnostisisme
     Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak mampu diketahui dengan cara melakukan sesuatu daya pikir manusia yang terbatas. Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk mampu mengetahui secara definitif ilmu tentang "Yang-Mutlak"; 

Hubungan Ontologi dan Ilmu Komunikasi
        Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Dalam ilmu komunikasi, ontologi berperan mengkaji hakikat komunikasi, yakni mengkaji apa yang dimaksud dengan komunikasi melalui objek material dan objek formal.
        Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Dalam ilmu komunikasi, ontologi berperan mengkaji hakikat komunikasi, yakni mengkaji apa yang dimaksud dengan komunikasi melalui objek material dan objek formal. 

Senin, 18 Oktober 2021

PEMIKIRAN FILSAFAT YUNANI, BARAT & ISLAM


Nama           :   Miftahul Falah
Nim              :   2001030096
Kelas/Prodi  :   3B Ilkom
Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi


PEMIKIRAN FILSAFAT YUNANI, BARAT & ISLAM

Latar Belakang Lahirnya Filsafat Yunani
    Sejarah telah mencatat bahwa tanah kelahiran dan perkembangan Filsafat adalah Yunani. Kata Filsafat itu sendiri berasal dari kata-kata Yunani yakni Philo dan Shopia. Philo artinya cinta yang dalam makna luas bisa diartikan dengan keingintahuan yang mendalam dan Sophia yang artinya kebijaksanaan atau kepandaian.
    Orang yang mempelajari Filsafat adalah seorang Pecinta kebijaksanaan yang tidak pernah puas akan suatu ilmu pengetahuan dan menganggap kebenaran itu tidak akan pernah berakhir (final). Mereka terus berusaha mencari kebenaran sampai keakar-akarnya. Terlahirnya filsafat di Yunani merupakan hal yang benar-benar menakjubkan, bahkan ajaib karena tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan untuk menjelaskannya. Namun demikian ada faktor-faktor yang mendahului, bahkan seakan-akan telah dipersiapkan untuk Yunani sebagai tempat kelahiran filsafat dunia. Hal-hal yang seakan-akan telah dipersiapkan itu antara lain: Bangsa Yunani pun adalah bangsa yang kaya dengan mitos, dan itu telah menjadi kepercayaan yang turun temurun. Bangsa Yunani mampu memilih dan memilah mitos-mitos tersebut menjadi satu rangkaian yang utuh dan sistematis. Kemampuan itulah yang menandakan bahwa bangsa Yunani telah mampu berpikir rasional.
    Bangsa Yunani adalah bangsa yang kaya akan karya sastranya, yang sekaligus dijadikan sebagai media edukatif bagi masyarakatnya. Bangsa Yunani sangat menghargai akan ilmu pengetahuan, mereka selalu menggunakan ilmu tidak semata-mata untuk kepentingan yang bersifat mencari keuntungan, akan tetapi lebih kepada pemenuhan kepentingan ilmu itu sendiri.

Filsafat Barat
    Filsafat barat tidak lepas dari filsafat histories (sejarah). Awal mula filsafat barat adalah keinginan yang mengarah pada pemikiran peradaban barat. Filsafat barat dibagi dengan 4 periode :
  1. Periode Yunani (600 SM- 400 M) Dipandang sebagai zaman keeemasan karena pada masa ini semua orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan pendapat serta ide- idenya. Beberapa tokoh yang terkenal yaitu Thales, Phytagoras, Socrates, Democritus, Plato, Aristoteles.
  2. Zaman Patristik dan Skolastik (300 M- 1500 M) Biasa disebut dengan zaman pertengahan. Pada zaman ini agama Kristen semakin besar serta filsafatnya bersifat spiritual. Melahirkan teori pencipta alam semesta, teori yang sangat terkenal yaitu tentang emanasi (melimpah) yang merupakan jawaban dari beberapa pertanyaan tokoh filusuf lain seperti apa bahan alam semesta ini.
  3. Zaman Modern (1500 M- 1800 M) Lahirnya gerakan Renaissance di Prancis dan Italia, Enlightment di Inggris dan Aufklarung. Eropa pada zaman ini berada pada masa pencerahan. Disini lah berawal pemisahan kewenangan antara keilmuan atau sains dengan agama. Pemisah ini yang dapat memicu perkembangan dan penyebaran filsafat barat yang sangat pesat.
  4. Zaman Sekarang (setelah 1800 M) Lahirnya paham- paham baru diantaranya yaitu Fenomologi, Feminisme, Eksistensialisme dan pan paham- pajham lainnya. Kemuadian para filusuf mengkhususkan pada objekobjek kajian filsafat tertentu. Pada zaman sekarang banyaknya beredar jurnal filsafat (kumpulan beberapa tulisan oleh penulis yang berbeda).
Filsafat Islam
    Filsafat Islam juga sering disebut filsafat Arab dan filsafat Muslim merupakan suatu kajian sistematis terhadap kehidupan, alam semesta, etika, moralitas, pengetahuan, pemikiran, dan gagasan politik yang dilakukan di dalam dunia Islam atau peradaban umat Muslim dan berhubungan dengan ajaran-ajaran Islam. Dalam Islam, terdapat dua istilah yang erat kaitannya dengan pengertian filsafat— falsafa (secara harfiah "filsafat") yang merujuk pada kajian filosofi, ilmu pengetahuan alam dan logika, dan Kalam (secara harfiah berarti "berbicara") yang merujuk pada kajian teologi keagamaan,
    Merujuk pada periodisasi yang dicetuskan Harun Nasution, perkembangan kajian filsafat Islam dapat dibagi ke dalam tiga periode yaitu periode klasik, periode pertengahan,dan periode modern. Periode klasik dari filsafat Islam diperhitungkan sejak wafatnya Nabi Muhammad hingga pertengahan abad ke 13, yaitu antara 650-1250 M. Periode selanjutnya disebut periode pertengahan yakni antara kurun tahun 1250-1800 M. Periode terakhir yaitu periode modern atau kontemporer berlangsung sejak kurun tahun 1800an hingga saat ini.
    Aktifitas yang berhubungan dengan kajian filsafat Islam kemudian mulai berkurang pascakematian Ibnu Rusyd pada abad ke-12 M. Terdapat banyak pendapat yang menganggap Al-Ghazali sebagai sosok utama dibalik kemunduran kajian filsafat Islam. Gagasan-gagasan Al-Ghazali yang diterbitkan dalam bukunya Tahafut al-Falasifa dipandang sebagai pelopor lahirnya kalangan Islam konservatif yang menolak kajian filsafat dalam Islam. Buku ini memuat kritik terhadap kajian filsafat yang ditawarkan oleh filsuf seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi yang dianggap mulai menjauhi nilai-nilai keislaman. Namun, pandangan ini kemudian menjadi perdebatan dikarenakan Al-Ghazali juga dikenal secara luas oleh pemikir-pemikir Islam sebagai seorang filsuf. Bahkan, dalam pendahuluan di buku tersebut Al-Ghazali menuliskan bahwasannya, kaum fundamentalis adalah "kaum yang beriman lewat contekan, yang menerima kebohongan tanpa verifikasi". Ketertarikan dalam kajian filsafat Islam dapat dikatakan mulai hidup kembali saat berlangsungnya pergerakan Al-Nahda pada akhir abad ke-19 di Timur Tengah yang kemudian berlanjut hingga kini. Beberapa tokoh yang dianggap berpengaruh dalam kajian filsafat Islam kontemporer diantaranya Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan Buya Hamka.

Sejarah
  Secara historis, perkembangan filsafat dalam Islam dapat dikatakan dimulai oleh pengaruh kebudayaan Hellenis, yang terjadi akibat bertemunya kebudayaan Timur (Persia) dan kebudayaan Barat (Yunani). Pengaruh ini dimulai ketika Iskandar Agung (Alexander the Great) yang merupakan salah satu murid dari Aristoteles berhasil menduduki wilayah Persia pada 331 SM. Alkulturasi kebudayaan ini mengakibatkan munculnya benih-benih kajian filsafat dalam masyarakat Muslim di kemudian hari. Penerjemahan literatur-literatur keilmuan dari Yunani dan budaya lainnya ke dalam bahasa Arab secara besar-besaran di era Bani Abbasiyah (750-1250an M) dapat dikatakan memberi pengaruh terbesar terhadap kemunculan dan perkembangan kajian filsafat Islam klasik. Peristiwa tersebut kemudian menjadikan periode ini sebagai zaman keemasan dalam peradaban Islam. Ini sekaligus menunjukan keterbukaan umat Muslim terhadap berbagai pandangan yang berkembang saat itu, baik dari para penganut keyakinan monoteis lainnya, seperti kaum Yahudi yang mendapat posisi penting saat itu di negeri-negeri Islam (Ravertz, 2004: 20), hingga kaum Pagan, yang terlihat dari ketertarikan umat Muslim terhadap literatur bangsa Yunani Kuno yang mana sering diidentikan dengan ritual-ritual Paganisme.


Senin, 11 Oktober 2021

Definisi Filsafat Komunikasi







Nama           :   Miftahul Falah
Nim              :   2001030096
Kelas/Prodi  :   3B Ilkom
Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi


Definisi Filsafat Komunikasi

Filsafat komunikasi adalah disiplin ilmu yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis mengenai teori dari proses komunikasi yang meliputi berbagai dimensi dan berdasarkan bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode komunikasi.


Filsafat Komunikasi: Pengertian, Epistemologi, Ontologi, Aksiologi

Filsafat komunikasi adalah suatu bidang studi yang menelaah pendekatan filsafat terhadap ilmu komunikasi. Studi filsafat komunikasi bisa kamu mulai dengan memelajari konsep pokok dalam disiplin filsafat, seperti epistemologi, aestetika, logika, etika, metafisika. Setelah itu, kamu bisa membahas bagaimana konsep tersebut dapat menjelaskan masalah/isu yang dihadapi praktisi komunikasi dalam profesi dan kehidupan masyarakat. Masalah yang dibahas khususnya adalah masalah yang bersangkutan dengan dilema-dilema etik.

Terdapat beberapa pendapat mengenai pendekatan filsafat dalam ilmu komunikasi. James A. Anderson (1996) menyatakan bahwa pendekatan filsafat menekankan pada teori komunikasi yang dapat mendefinisikan teori, mendiskusikan bidang studi teori komunikasi, dan mencari tahu hal yang membuat suatu teori termasuk teori komunikasi. 



Filsafat komunikasi

Seperti yang sudah dibahas di atas, pendekatan filsafat menekankan kepada teori yang bersangkutan dengan ilmu komunikasi. Setiap teori yang ada di studi ilmu komunikasi melihat proses komunikasi dari berbagai sudut pandang. Sudut pandang yang berbeda dapat membantu kamu untuk melihat berbagai pemahaman dan fungsi komunikasi. Oleh karena itu, teori komunikasi memiliki orientasi multi-teoritis.

Secara umum, arti teori dalam Littlejohn & Foss (2017) adalah seperangkat konsep, penjelasan, dan prinsip yang terorganisir yang menggambarkan beberapa aspek pengalaman manusia. Pengertian teknis dari teori menurut Littlejohn adalah satu kesatuan proposisi yang koheren yang memberikan gambaran filosofis yang konsisten tentang suatu subjek. Terdapat beberapa aspek teori.

Pertama, teori adalah abstraksi, berguna sebagai buku panduan yang membantu untuk memahami, menjelaskan, menafsirkan, menilai, dan berpartisipasi terhadap kegiatan komunikasi di sekitar kita.

Kedua, teori adalah hasil konstruksi manusia. Teori adalah suatu hal yang diciptakan manusia, tidak diciptakan oleh kekuatan lain. Oleh karena itu, teori merupakan penggambaran dari berbagai cara seorang peneliti melihat lingkungan sekitarnya. Teori tidak menangkap realitas, tetapi memperlihatkan bagaimana peneliti menyusun realitas yang diamatinya. Hasil pengamatan peneliti bisa menjadi berbeda, tergantung kepada sudut pandang teoritis masing-masing peneliti.

Ketiga, teori berkaitan erat dengan perilaku. Teori, atau cara kamu berpikir, dapat membimbing cara kamu berperilaku. Sebaliknya, perilaku kamu juga dapat memandu cara berpikir kamu. Sebuah teori mengatur bagaimana seseorang memahami dunia.


Asumsi Filosofis

Asumsi filosofis merupakan titik awal penyusunan teori. Karena asumsi filosofis dapat menentukan bagaimana suatu teori dapat dimainkan, pemahaman terhadap asumsi filosofis adalah langkah pertama untuk memahami teori tersebut.

Dalam pendekatan filsafat, gejala komunikasi dipelajari dengan menggunakan asumsi filosofis ontologi, epistemologi, dan aksiologi (Effendy, 1984). Epistemologi adalah pertanyaan terhadap pengetahuan. Ontologi adalah pertanyaan tentang keberadaan. Axiologi adalah pertanyaan tentang nilai. Setiap teori, baik secara implisit maupun eksplisit, mengandung asumsi mengenai ilmu pengetahuan, keberadaan, dan nilai. 

Epistemologi 

Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan, dan bagaimana seseorang dapat mengetahui suatu pengetahuan. Guba (1990) menjelaskan epistemologi sebagai asumsi terhadap hubungan antara peneliti dan objek penelitian. Terdapat beberapa pertanyaan terkait epistemologi dalam peneliti ilmu komunikasi.


Ontologi

Ontologi adalah cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat keberadaan. Hubungan antara epistemologi dan ontologi adalah, pemahaman terhadap pengetahuan bergantung kepada pemahaman mengenai siapa yang mengetahui pengetahuan.

Aksiologi

Aksiologi adalah cabang filsafat yang berfokus kepada nilai yang dapat memandu penelitian dan implikasi nilai terhadap proses penelitian. Terdapat tiga isu aksiologis yang dianggap penting bagi peneliti ilmu komunikasi.



Sumber:

Anderson, J. A. (1996) Communication Theory: Epistemological Foundations. 


Effendy, O. Uchjana. 2001. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya


Littlejohn, S.W., & Foss, K. A. (2017). Theories of Human Communication: Tenth Edition. Illinois: Waveland Press


Rakhmat, Jalaluddin, 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.



💓👏👌👍👎😇😝😠😡

Jumat, 29 Januari 2021

Euro Truck Evolution Mod Terbaru! Game Android Offline Truck Simulator Terbaik

Hello guys kembali lagi di Blog Master Game ID. kali ini Master Game ID akan share Euro Truck Evolution Mod Terbaru!.. nah sebelum kalian mendownload game ini jangan lupa Support & Subscribe Channel Master Game ID, bunyikan loncengnya agar kalian dapat info game menarik lainya nah penasaran sama gamenya let's get star.


Download Gamenya Di Sini ⬇️⬇️⬇️


🎮 Euro Truck Evolution Mod Apk
https://moddroid.com/download/euro-truck-evolution-simulator-17566/1
Size : 226MB Offline


Vitur Mod
• Unlimited money
• Play With Friends


📱 MY SOCIAL MEDIA :

🖥️ FAN PAGE : Master Game ID
🎬 SUBSCRIBE & BERLANGGANAN : www.youtube.com/MasterGameID
 

THANK YOU FOR COMING HERE!


Master Game adalah sebuah chanel yang membahas mengenai game indonesia yang menyajikan informasi, berita, review, gameplay ,guide terlengkap. dan juga dapat menambah wawasan anda seputar info game terbaru & menarik lainya.

Postmodernisme

Nama           :   Miftahul Falah Nim              :   2001030096 Kelas/Prodi  :   3B Ilkom Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi Penge...