Senin, 18 Oktober 2021

PEMIKIRAN FILSAFAT YUNANI, BARAT & ISLAM


Nama           :   Miftahul Falah
Nim              :   2001030096
Kelas/Prodi  :   3B Ilkom
Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi


PEMIKIRAN FILSAFAT YUNANI, BARAT & ISLAM

Latar Belakang Lahirnya Filsafat Yunani
    Sejarah telah mencatat bahwa tanah kelahiran dan perkembangan Filsafat adalah Yunani. Kata Filsafat itu sendiri berasal dari kata-kata Yunani yakni Philo dan Shopia. Philo artinya cinta yang dalam makna luas bisa diartikan dengan keingintahuan yang mendalam dan Sophia yang artinya kebijaksanaan atau kepandaian.
    Orang yang mempelajari Filsafat adalah seorang Pecinta kebijaksanaan yang tidak pernah puas akan suatu ilmu pengetahuan dan menganggap kebenaran itu tidak akan pernah berakhir (final). Mereka terus berusaha mencari kebenaran sampai keakar-akarnya. Terlahirnya filsafat di Yunani merupakan hal yang benar-benar menakjubkan, bahkan ajaib karena tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan untuk menjelaskannya. Namun demikian ada faktor-faktor yang mendahului, bahkan seakan-akan telah dipersiapkan untuk Yunani sebagai tempat kelahiran filsafat dunia. Hal-hal yang seakan-akan telah dipersiapkan itu antara lain: Bangsa Yunani pun adalah bangsa yang kaya dengan mitos, dan itu telah menjadi kepercayaan yang turun temurun. Bangsa Yunani mampu memilih dan memilah mitos-mitos tersebut menjadi satu rangkaian yang utuh dan sistematis. Kemampuan itulah yang menandakan bahwa bangsa Yunani telah mampu berpikir rasional.
    Bangsa Yunani adalah bangsa yang kaya akan karya sastranya, yang sekaligus dijadikan sebagai media edukatif bagi masyarakatnya. Bangsa Yunani sangat menghargai akan ilmu pengetahuan, mereka selalu menggunakan ilmu tidak semata-mata untuk kepentingan yang bersifat mencari keuntungan, akan tetapi lebih kepada pemenuhan kepentingan ilmu itu sendiri.

Filsafat Barat
    Filsafat barat tidak lepas dari filsafat histories (sejarah). Awal mula filsafat barat adalah keinginan yang mengarah pada pemikiran peradaban barat. Filsafat barat dibagi dengan 4 periode :
  1. Periode Yunani (600 SM- 400 M) Dipandang sebagai zaman keeemasan karena pada masa ini semua orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan pendapat serta ide- idenya. Beberapa tokoh yang terkenal yaitu Thales, Phytagoras, Socrates, Democritus, Plato, Aristoteles.
  2. Zaman Patristik dan Skolastik (300 M- 1500 M) Biasa disebut dengan zaman pertengahan. Pada zaman ini agama Kristen semakin besar serta filsafatnya bersifat spiritual. Melahirkan teori pencipta alam semesta, teori yang sangat terkenal yaitu tentang emanasi (melimpah) yang merupakan jawaban dari beberapa pertanyaan tokoh filusuf lain seperti apa bahan alam semesta ini.
  3. Zaman Modern (1500 M- 1800 M) Lahirnya gerakan Renaissance di Prancis dan Italia, Enlightment di Inggris dan Aufklarung. Eropa pada zaman ini berada pada masa pencerahan. Disini lah berawal pemisahan kewenangan antara keilmuan atau sains dengan agama. Pemisah ini yang dapat memicu perkembangan dan penyebaran filsafat barat yang sangat pesat.
  4. Zaman Sekarang (setelah 1800 M) Lahirnya paham- paham baru diantaranya yaitu Fenomologi, Feminisme, Eksistensialisme dan pan paham- pajham lainnya. Kemuadian para filusuf mengkhususkan pada objekobjek kajian filsafat tertentu. Pada zaman sekarang banyaknya beredar jurnal filsafat (kumpulan beberapa tulisan oleh penulis yang berbeda).
Filsafat Islam
    Filsafat Islam juga sering disebut filsafat Arab dan filsafat Muslim merupakan suatu kajian sistematis terhadap kehidupan, alam semesta, etika, moralitas, pengetahuan, pemikiran, dan gagasan politik yang dilakukan di dalam dunia Islam atau peradaban umat Muslim dan berhubungan dengan ajaran-ajaran Islam. Dalam Islam, terdapat dua istilah yang erat kaitannya dengan pengertian filsafat— falsafa (secara harfiah "filsafat") yang merujuk pada kajian filosofi, ilmu pengetahuan alam dan logika, dan Kalam (secara harfiah berarti "berbicara") yang merujuk pada kajian teologi keagamaan,
    Merujuk pada periodisasi yang dicetuskan Harun Nasution, perkembangan kajian filsafat Islam dapat dibagi ke dalam tiga periode yaitu periode klasik, periode pertengahan,dan periode modern. Periode klasik dari filsafat Islam diperhitungkan sejak wafatnya Nabi Muhammad hingga pertengahan abad ke 13, yaitu antara 650-1250 M. Periode selanjutnya disebut periode pertengahan yakni antara kurun tahun 1250-1800 M. Periode terakhir yaitu periode modern atau kontemporer berlangsung sejak kurun tahun 1800an hingga saat ini.
    Aktifitas yang berhubungan dengan kajian filsafat Islam kemudian mulai berkurang pascakematian Ibnu Rusyd pada abad ke-12 M. Terdapat banyak pendapat yang menganggap Al-Ghazali sebagai sosok utama dibalik kemunduran kajian filsafat Islam. Gagasan-gagasan Al-Ghazali yang diterbitkan dalam bukunya Tahafut al-Falasifa dipandang sebagai pelopor lahirnya kalangan Islam konservatif yang menolak kajian filsafat dalam Islam. Buku ini memuat kritik terhadap kajian filsafat yang ditawarkan oleh filsuf seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi yang dianggap mulai menjauhi nilai-nilai keislaman. Namun, pandangan ini kemudian menjadi perdebatan dikarenakan Al-Ghazali juga dikenal secara luas oleh pemikir-pemikir Islam sebagai seorang filsuf. Bahkan, dalam pendahuluan di buku tersebut Al-Ghazali menuliskan bahwasannya, kaum fundamentalis adalah "kaum yang beriman lewat contekan, yang menerima kebohongan tanpa verifikasi". Ketertarikan dalam kajian filsafat Islam dapat dikatakan mulai hidup kembali saat berlangsungnya pergerakan Al-Nahda pada akhir abad ke-19 di Timur Tengah yang kemudian berlanjut hingga kini. Beberapa tokoh yang dianggap berpengaruh dalam kajian filsafat Islam kontemporer diantaranya Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan Buya Hamka.

Sejarah
  Secara historis, perkembangan filsafat dalam Islam dapat dikatakan dimulai oleh pengaruh kebudayaan Hellenis, yang terjadi akibat bertemunya kebudayaan Timur (Persia) dan kebudayaan Barat (Yunani). Pengaruh ini dimulai ketika Iskandar Agung (Alexander the Great) yang merupakan salah satu murid dari Aristoteles berhasil menduduki wilayah Persia pada 331 SM. Alkulturasi kebudayaan ini mengakibatkan munculnya benih-benih kajian filsafat dalam masyarakat Muslim di kemudian hari. Penerjemahan literatur-literatur keilmuan dari Yunani dan budaya lainnya ke dalam bahasa Arab secara besar-besaran di era Bani Abbasiyah (750-1250an M) dapat dikatakan memberi pengaruh terbesar terhadap kemunculan dan perkembangan kajian filsafat Islam klasik. Peristiwa tersebut kemudian menjadikan periode ini sebagai zaman keemasan dalam peradaban Islam. Ini sekaligus menunjukan keterbukaan umat Muslim terhadap berbagai pandangan yang berkembang saat itu, baik dari para penganut keyakinan monoteis lainnya, seperti kaum Yahudi yang mendapat posisi penting saat itu di negeri-negeri Islam (Ravertz, 2004: 20), hingga kaum Pagan, yang terlihat dari ketertarikan umat Muslim terhadap literatur bangsa Yunani Kuno yang mana sering diidentikan dengan ritual-ritual Paganisme.


Senin, 11 Oktober 2021

Definisi Filsafat Komunikasi







Nama           :   Miftahul Falah
Nim              :   2001030096
Kelas/Prodi  :   3B Ilkom
Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi


Definisi Filsafat Komunikasi

Filsafat komunikasi adalah disiplin ilmu yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis mengenai teori dari proses komunikasi yang meliputi berbagai dimensi dan berdasarkan bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode komunikasi.


Filsafat Komunikasi: Pengertian, Epistemologi, Ontologi, Aksiologi

Filsafat komunikasi adalah suatu bidang studi yang menelaah pendekatan filsafat terhadap ilmu komunikasi. Studi filsafat komunikasi bisa kamu mulai dengan memelajari konsep pokok dalam disiplin filsafat, seperti epistemologi, aestetika, logika, etika, metafisika. Setelah itu, kamu bisa membahas bagaimana konsep tersebut dapat menjelaskan masalah/isu yang dihadapi praktisi komunikasi dalam profesi dan kehidupan masyarakat. Masalah yang dibahas khususnya adalah masalah yang bersangkutan dengan dilema-dilema etik.

Terdapat beberapa pendapat mengenai pendekatan filsafat dalam ilmu komunikasi. James A. Anderson (1996) menyatakan bahwa pendekatan filsafat menekankan pada teori komunikasi yang dapat mendefinisikan teori, mendiskusikan bidang studi teori komunikasi, dan mencari tahu hal yang membuat suatu teori termasuk teori komunikasi. 



Filsafat komunikasi

Seperti yang sudah dibahas di atas, pendekatan filsafat menekankan kepada teori yang bersangkutan dengan ilmu komunikasi. Setiap teori yang ada di studi ilmu komunikasi melihat proses komunikasi dari berbagai sudut pandang. Sudut pandang yang berbeda dapat membantu kamu untuk melihat berbagai pemahaman dan fungsi komunikasi. Oleh karena itu, teori komunikasi memiliki orientasi multi-teoritis.

Secara umum, arti teori dalam Littlejohn & Foss (2017) adalah seperangkat konsep, penjelasan, dan prinsip yang terorganisir yang menggambarkan beberapa aspek pengalaman manusia. Pengertian teknis dari teori menurut Littlejohn adalah satu kesatuan proposisi yang koheren yang memberikan gambaran filosofis yang konsisten tentang suatu subjek. Terdapat beberapa aspek teori.

Pertama, teori adalah abstraksi, berguna sebagai buku panduan yang membantu untuk memahami, menjelaskan, menafsirkan, menilai, dan berpartisipasi terhadap kegiatan komunikasi di sekitar kita.

Kedua, teori adalah hasil konstruksi manusia. Teori adalah suatu hal yang diciptakan manusia, tidak diciptakan oleh kekuatan lain. Oleh karena itu, teori merupakan penggambaran dari berbagai cara seorang peneliti melihat lingkungan sekitarnya. Teori tidak menangkap realitas, tetapi memperlihatkan bagaimana peneliti menyusun realitas yang diamatinya. Hasil pengamatan peneliti bisa menjadi berbeda, tergantung kepada sudut pandang teoritis masing-masing peneliti.

Ketiga, teori berkaitan erat dengan perilaku. Teori, atau cara kamu berpikir, dapat membimbing cara kamu berperilaku. Sebaliknya, perilaku kamu juga dapat memandu cara berpikir kamu. Sebuah teori mengatur bagaimana seseorang memahami dunia.


Asumsi Filosofis

Asumsi filosofis merupakan titik awal penyusunan teori. Karena asumsi filosofis dapat menentukan bagaimana suatu teori dapat dimainkan, pemahaman terhadap asumsi filosofis adalah langkah pertama untuk memahami teori tersebut.

Dalam pendekatan filsafat, gejala komunikasi dipelajari dengan menggunakan asumsi filosofis ontologi, epistemologi, dan aksiologi (Effendy, 1984). Epistemologi adalah pertanyaan terhadap pengetahuan. Ontologi adalah pertanyaan tentang keberadaan. Axiologi adalah pertanyaan tentang nilai. Setiap teori, baik secara implisit maupun eksplisit, mengandung asumsi mengenai ilmu pengetahuan, keberadaan, dan nilai. 

Epistemologi 

Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan, dan bagaimana seseorang dapat mengetahui suatu pengetahuan. Guba (1990) menjelaskan epistemologi sebagai asumsi terhadap hubungan antara peneliti dan objek penelitian. Terdapat beberapa pertanyaan terkait epistemologi dalam peneliti ilmu komunikasi.


Ontologi

Ontologi adalah cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat keberadaan. Hubungan antara epistemologi dan ontologi adalah, pemahaman terhadap pengetahuan bergantung kepada pemahaman mengenai siapa yang mengetahui pengetahuan.

Aksiologi

Aksiologi adalah cabang filsafat yang berfokus kepada nilai yang dapat memandu penelitian dan implikasi nilai terhadap proses penelitian. Terdapat tiga isu aksiologis yang dianggap penting bagi peneliti ilmu komunikasi.



Sumber:

Anderson, J. A. (1996) Communication Theory: Epistemological Foundations. 


Effendy, O. Uchjana. 2001. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya


Littlejohn, S.W., & Foss, K. A. (2017). Theories of Human Communication: Tenth Edition. Illinois: Waveland Press


Rakhmat, Jalaluddin, 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.



💓👏👌👍👎😇😝😠😡

Postmodernisme

Nama           :   Miftahul Falah Nim              :   2001030096 Kelas/Prodi  :   3B Ilkom Tugas Mata Kuliah  :   Filsafat Komunikasi Penge...